Rabu, 05 November 2008

islam dan kebudayaan

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama. Namum terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal ini berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran Ilahiyat yang bersifat absolut. Untuk itu perlu adanya gagasan pribumisasi Islam. Secara lebih luas, dialektika agama dan budaya lokal atau seni tradisi tersebut dapat dilihat dalam perspektif sejarah agama-agama besar dunia: Kristen, Hindu, termasuk Islam, karena dalam penyebarannya selalu berhadapan dengan keragaman budaya lokal setempat, strategi dakwah yang digunakannya seringkali dengan mengakomodasi budaya lokal tersebut dan kemudian memberikan spirit keagamaannya.
Sebagai sebuah kenyatan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer

B.Rumusan masalah
1. Apakah pengertian islam dan kebudayaan ?
2. Bagaimanakah hubungan antara islam dan budaya ?
3. Bagaimanakah sikap islam terhadap kebudayaan ?
4. Apkah islam merupakan kebudayaan ?
5. Bagaimanakah hubungan islam dan kebudayaan arab lama(pra islam)?






BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian islam dan kebudayaan
Islam berasal dari bahasa arab,terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa dan damai.dari asal kata itu di bentuk kata aslama yan artinya memelihara dalam keadaan selamat sentossa dan berarti juga menyerahkan diri,tunduk,patuh dan taat.kata aslama itulah yang menjadikan kata islam yang menandung arti segala arti yang terkandung dalam arti pokoknya. Oleh sebab itu orang yang berserah diri,patuh,dan taat disebut orang muslim.orang yang demikian berararti
Telah menyatakan dirinya taat,menyerakan diri dan patuh pada Allah SWT.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan ( adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudaaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan.

B.Hubungan antara islam dan kebudayaan
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan. Hal itu, karena para ahli Antropologi mengatakan bahwa manusia mempunyai akal-pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada.
Di sinilah, , bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia. Berbagai tingkah laku keagamaan, masih menurut ahli antropogi,bukanlah diatur oleh ayat- ayat dari kitab suci, melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. Pendapat ini diwakili oleh Hegel. Kelompok kedua, yang di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Dan kelompok ketiga, yeng menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.
Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakan suatu kebudayaan. Di sini, Islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama. Teori seperti ini, nampaknya lebih dengan dekat apa yang dinyatakan Hegel di atas
C. Sikap Islam terhadap Kebudayaan
Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yg beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :

Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.

Dalam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat, seperti ; kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Dalam Islam budaya itu syah-syah saja, karena Islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita. Menentukan bentuk bangunan Masjid, dibolehkan memakai arsitektur Persia, ataupun arsitektur Jawa yang berbentuk Joglo.

Untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dalam Islam, maka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Sebagai contoh adalah apa yang di tulis oleh Ahmad Baaso dalam sebuah harian yang menyatakan bahwa menikah antar agama adalah dibolehkan dalam Islam dengan dalil “ al adatu muhakkamatun “ karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, maka dibolehkan dengan dasar kaidah di atas. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan seorang kafir.

Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam , kemudiandi“rekonstruksi”sehingga menjadi Islami.

Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh “ talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk “ Ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya. Contoh lain adalah kebudayaan Arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah. Oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan, tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga:KebudayaanyangbertentangandenganIslam.
Seperti, budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita, dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dengan budaya “tiwah“ , sebuah upacara pembakaran mayat. Bedanya, dalam “ tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Kemudian kalau sudah tiba masanya, jenazah tersebut akan digali lagi untuk dibakar. Upacara ini berlangsung sampai seminggu atau lebih. Pihak penyelenggara harus menyediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar , karena disaksikan oleh para penduduk dari desa-desa dalam daerah yang luas. Di daerah Toraja, untuk memakamkan orang yan meninggal, juga memerlukan biaya yang besar. Biaya tersebut digunakan untuk untuk mengadakan hewan kurban yang berupa kerbau. Lain lagi yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap, Jawa tengah. Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “, yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan penguasa Lautan selatan ( SamudraHindia. ).

Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakan kebudayaan yang menurunkan derajat kemanusiaan. Karena mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menghinakan manusia yangsudahmeninggaldunia.

Dalam hal ini al Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan : “ Sesungguhnya nash-nash syareat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yang telah disepakati, seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini, yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pada malam- malam lebaran. Sedang nash syareat, setelah terbukti ke-autentikannya, maka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Dan karena tradisi, hanyalah mengikat masyarakat yang menyakininya, sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan., maka nash jauh lebih kuat. Dan juga, karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash, sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “ apa yang dinyatakan oleh kaum muslimin baik, maka sesuatu itu baik “

Dari situ, jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Dr. Abdul Hadi WM, dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Jakarta, bahwa Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal, tapi harus memposisikannya sebagai ayat-ayat Tuhan di dunia ini atau fikih tidak memadai untuk memahami seni, adalah tidak benar. Wallahu a’lam
D.Islam dan kebudayaan
Nurcholis madjid menjelaskan hubungan agama dan budaya.menurutnya,agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan.agama bernilai mutak tidak berubah karena perubahan waktu da tempat.Sedangkan budaya walaupun berdasarkan agama,dapat berubah dari waktu kewaktu dan tempat ke ketmpat. Sebagian besar budaya berdasarkan agama tidak pernah terjadi sebaliknya.oleh karena itu agama adalah primer dan budaya adalah skunder. Budaya bisa merupakan expresi hidup keagamaan.
Dalam pandangan Harun nasution agama pada hakekatnya mengandung dua kelompok ajaran.Kelompok pertama,ajaran dasar yang diwahyukan tuhan melalui para rasulnya kepada masyarakat manusia. Ajaran dasar ini terdapat dalam kitab suci.ajaran yang terdapat dalam kitab suci itu memerlukan penjelasan baik mengenai arti maupun cara pelaksanaanya.penjelasan-penjelasan ini diberikan oleh para pemuka atau ahli agama.penjelasan penjelasan mereka terhadap ajaran dasar agama adlah kelompok kedua dari ajaran agama.
Kelompok pertama, karena karena merupakan wahyu dari tuhan bersifat absolute,mutlak benar. Kelompok kedua, karena merupakan penjelasan dan hasil pemikiran ahli agama pada hakekatnya tidaklah mutlak benar dan absolute.Kelompok kedua ini bersifat relative dan dapat di ubah sesuai denga perkembangan zaman.Ajaran dasar agama :AL-Quran dan sunah yang periwayatanya shohih bukan termasuk budaya.Tetapi hasil pemahaman ulama'terhadap ajaran dasar agama merupakan hasil karsa ulama'. Oleh karena itu ia merupakan bagian dari kebudayaan .Akan teapi umat islam meyakini bahwa kebudayaan yang merupakan hasil upaya ulama'dalam memahami ajaran dasar agama islam dituntun oleh petunjuk tuhan .
E.Islam dan kebudayaan arab lama
Bangsa arab pra islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi.Letak geografisnya strategis membuat islam diturunkan di arab mudah tersebar keberbagai wilayah,disamping didorong cepatnya laju perluasan wilayh yang dilakukan oleh islam.
Dari aqidah bangsa arab pra islam percaya kepada Allah sebagai pencipta.Sumber kepercayaan tersebut adalah risalah samawiah yang dikembangkan di jazirah arab,terutama risalah nabi Ibrahim dan ismail.Kemudian bangsa arab melakukan trasformasi dari sudut islam yang di bawah Muhammad disebut penympangan terhadap agama mereka sehinnga menjadikan berhala,pohon,binantang,dan jin sebagai penyerta Allah. Meraka pada umumnya tidak percaya hari kiamat .
Meskipun pada umumnya melakukan penyimpangan,sebagian kecil bangsa arab masih mempertahankan aqidah monotheism, seperti yang di ajarkan nabi ibrahim .Dilihat dari sumber yang digunakan bangsa arab pra islam bersumber pada adat istiadat .dalam bidang muamalat diantara kebiasaan meraka adalah diperbolahkanya jual beli ,kerja sama pertanian dan riba .diantara ketantuan hokum keluarga arab pra islam adalah dibolehkanya berpoligini denga perempuan dengan jumblah tanpa batas serta anak kecil dan perempuan tidak bias menerima harta pusakaatau peninggalan.
Al-quran adalah kitab suci Allah yang "akomodatif"terhadap hokum yang hidup dan berkembang di masyarakat pra islam .Dalam al-quran tejadi tawaran perbaikan yang berupa pembatalan dan perubahan,diantaranya dalam hal hokum poligini dan syarat menerima harta waris.Tawaran perubahan itu adalah dibatasinya jumblah istri pada pernikahan poligini,yaitu 4 orang dan diharamkanya poliandri .
Sebab-sebab dan syarat-syarat mempusakai pada zaman jahiliyah adalah :1.adanya pertalian kerabat 2.janji setia 3.adopsi . pada dasarnya,setiap yang mempunyai hubungan kerabat,janji setia,dan anak angkat adalah ahli waris .merka berhak menerima warisan dengan sarat: dewasadan laki-laki.Diantara akomodasi al-quran terhadap kejadian ini adalah dijadikanya permpuan sebagai anggota keluarga yang mendapat warisan dalam berbagai posisi keluarga baik sebagai anak,istri,ibu maupun saudara.Disamping itu saling mewarisi yang disebabkan adopsi dibatlkan oleh Allah dalam al-quran.Demikianlah persentuhan antara islam dan adat Arab pra islam.
BAB III
PENUTUP
A.kesimpulan
1.Islam berasal dari bahasa arab,terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa dan damai.dari asal kata itu di bentuk kata aslama yan artinya memelihara dalam keadaan selamat sentossa dan berarti juga menyerahkan diri,tunduk,patuh dan taat.kata aslama itulah yang menjadikan kata islam yang menandung arti segala arti yang terkandung dalam arti pokoknya. Oleh sebab itu orang yang berserah diri,patuh,dan taat disebut orang muslim.
2.dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan.
3.Islam dalam mensikapi budaya itu dilakukan secara selektif
4.Al-quran adalah kitab suci Allah yang "akomodatif"terhadap hokum yang hidup dan berkembang di masyarakat pra islam .Dalam al-quran tejadi tawaran perbaikan yang berupa pembatalan dan perubahan












DAFTAR PUSTAKA
Nata,Abuddin,H.Metodologi studi islam.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2008
Mubarok,Jaih.Metodologi studi islam.Bandung:PT Remaja posda karya,2000

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons